Punya BPJS PBI tapi Terganjal Ongkos dan Hidup Sehari-hari, Perjuangan Keluarga Pak Amuy Demi Berobat Anaknya

Perjuangan Pak Amuy Demi Berobat Anaknya

investigasihukumkriminal CIANJUR – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) sejatinya dihadirkan oleh pemerintah untuk memberikan kemudahan akses kesehatan bagi masyarakat, khususnya bagi warga kurang mampu melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI). Namun, di tingkat akar rumput, kepemilikan kartu BPJS gratis saja terkadang belum cukup untuk meruntuhkan seluruh tembok penghalang kesembuhan.


Realitas pahit ini dirasakan langsung oleh Pak Amuy, seorang warga berekonomi amat terbatas yang tinggal di Kampung Tabrik RT 03, Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur. Di tengah himpitan hidup yang serba susah, ia harus menyaksikan anaknya, Misbah (45), terbaring lemah akibat penyakit yang telah dideritanya selama bertahun-tahun.


Meski secara administratif Pak Amuy dan keluarganya sudah tercatat memiliki fasilitas BPJS PBI, secercah harapan untuk berobat sering kali harus berbenturan dengan tembok tebal persoalan biaya operasional. Bagi keluarga prasejahtera, berobat ke rumah sakit rujukan bukan sekadar soal gratisnya tindakan medis di meja dokter, melainkan menyangkut rentetan biaya non-medis yang mau tidak mau harus dipenuhi agar proses pengobatan dapat berjalan.


Saat ditemui di kediamannya di Kp Tabrik 3 Desa Sindangraja Kecamatan Sukaluyu Kabupaten Cianjur tersebut, kendala utama yang dirasakan Pak Amuy bukanlah penolakan dari pihak rumah sakit, melainkan ketiadaan biaya untuk melangkah ke sana.

Mulai dari kebutuhan mencari biaya untuk keluarga yang harus menunggu pasien di rumah sakit, biaya transportasi atau perjalanan menuju fasilitas kesehatan, hingga berbagai kebutuhan tak terduga selama masa perawatan di rumah sakit menjadi beban berat yang menghimpit.


“Kartu BPJS memang ada dan gratis, tapi untuk berangkat, ongkos jalan, dan biaya sehari-hari selama menunggu di rumah sakit itu yang membuat kami bingung harus cari ke mana,” ungkap cerminan jeritan hati warga kecil yang kerap luput dari perhatian.


Kondisi yang dialami Pak Amuy dan Misbah ini membuka mata kita semua bahwa perlindungan sosial di sektor kesehatan tidak cukup hanya berhenti pada aspek jaminan medis semata. Aspek pendukung seperti subsidi logistik keluarga pasien miskin, fasilitas rumah singgah yang memadai, atau uluran tangan dermawan serta jaring pengaman sosial di tingkat lokal sangat dibutuhkan.


Sebab, bagi warga miskin, biaya hidup harian dan ongkos operasional di luar tanggungan BPJS sering kali menjadi penentu apakah seseorang bisa melanjutkan ikhtiar kesembuhannya atau terpaksa pasrah menahan sakit di rumah.


Kasus ini menjadi potret nyata dan PR besar bagi pemerintah daerah, Dinas Sosial, para pemangku kebijakan, serta solidaritas sesama warga untuk lebih peka melihat realitas di lapangan—bahwa di balik gratisnya layanan kesehatan, masih ada air mata perjuangan rakyat kecil di pelosok desa yang harus berdarah-darah demi sekadar ongkos menuju kesembuhan.

Program Berobat Gratis KDM Resmi Disepakati, Warga Cianjur Justru Pulang karena RSUD Sayang Belum Terima Juknis

investigasihukumkriminal CIANJUR – Program pelayanan kesehatan dan rawat inap gratis bagi seluruh warga Jawa Barat yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) bersama pemerintah kabupaten/kota dan jaringan rumah sakit resmi disepakati pada 7 Oktober 2026. Program ini dirancang untuk memastikan seluruh masyarakat dapat mengakses fasilitas medis tanpa terkendala biaya maupun status kepesertaan jaminan sosial.

Namun, di balik antusiasme warga menyambut kebijakan tersebut, sejumlah kendala justru ditemukan di lapangan. Berdasarkan penelusuran dan konfirmasi dari akun media sosial @AktivisCianjurSelatan, pihak manajemen RSUD Sayang (Someah) dilaporkan belum menerima informasi resmi atau petunjuk teknis (A1) terkait pelaksanaan program tersebut. Akibatnya, sejumlah warga yang datang untuk berobat terpaksa harus pulang karena belum bisa memanfaatkan fasilitas layanan gratis yang disosialisasikan.

Ketentuan Utama Program Kesehatan Gratis Jabar

Secara konseptual, program layanan kesehatan ini memiliki sejumlah poin ketentuan utama yang telah disepakati bersama:

  • Fasilitas & Lokasi: Berlaku untuk perawatan medis dan akomodasi di ruang rawat inap Kelas 3 di lebih dari 100 rumah sakit mitra di Jawa Barat, serta sejumlah rumah sakit rujukan nasional di Jakarta seperti RSCM, RS Jantung Harapan Kita, RSAB Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, dan RSPAD.
  • Sasaran & Status BPJS: Warga tetap bisa berobat gratis meskipun tidak memiliki BPJS Kesehatan, kartu BPJS kedaluwarsa atau tidak aktif, menunggak iuran, maupun jika terdapat jenis pengobatan tertentu yang tidak di-cover oleh BPJS.
  • Persyaratan KTP: Cukup menunjukkan KTP Jawa Barat. Bagi warga yang belum memiliki KTP, pelayanan tetap dapat diberikan asalkan terkonfirmasi sah sebagai penduduk Jawa Barat.
  • Kondisi Darurat: Menanggung pengobatan darurat akibat kecelakaan serta korban tindakan kriminal seperti penganiayaan, pembegalan, atau perampokan.
  • Pembiayaan: Ditanggung bersama melalui sinergi anggaran antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah kabupaten/kota masing-masing.

Desakan Penyelarasan dan Juknis di Lapangan

Temuan di RSUD Sayang sejalan dengan catatan yang sebelumnya disampaikan oleh pihak DPRD Jawa Barat. Lembaga legislatif tersebut menyoroti perlunya petunjuk teknis (juknis) yang lebih jelas serta penyelarasan mekanisme di lapangan secara cepat dan menyeluruh.

Hal ini dinilai krusial agar sosialisasi yang masif di tingkat provinsi tidak jalan di tempat, serta untuk menghindari kebingungan atau hambatan bagi masyarakat saat membutuhkan penanganan medis mendesak di rumah sakit daerah.

Masyarakat yang ingin mengetahui perkembangan informasi resmi, pedoman teknis, maupun daftar fasilitas kesehatan yang telah terintegrasi dapat memantau langsung portal resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Warga juga berharap pihak manajemen rumah sakit daerah segera mendapatkan instruksi tertulis agar kebijakan mulia ini dapat segera dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat kecil. (86)

Dilema Sampah Liar: Ketika Himbauan Pemerintah Tak Sejalan dengan Fasilitas

investigasihukumkriminal CIANJUR | Tumpukan Sampah, pemandangan menyedihkan yang kini kerap dijumpai di sepanjang jalan di Cianjur. Mulai dari kantong plastik bekas, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga lainnya, menumpuk tak beraturan dan menebarkan bau tak sedap.


Ironisnya, tumpukan sampah ini berada tepat di tepi jalan yang ramai dilalui warga. Padahal, seringkali kita melihat atau mendengar himbauan dari pemerintah setempat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Banyak pihak, terutama pengendara yang melintas seperti Bapak Romi Pengemudi Angkot Jangari – Ciranjang, mengeluhkan kondisi ini. Namun, tak sedikit juga warga yang “terpaksa” membuang sampah di tempat ini karena satu alasan yang sama: tidak adanya fasilitas tempat pembuangan sampah (TPS) yang memadai di sekitar tempat tinggal mereka.

“Ibu Enur, mengapa sampah di sini dibiarkan menumpuk seperti ini? Apakah memang tidak ada tempat pembuangan lain?”

“Niatnya mau buang di TPS yang benar, tapi di mana? Di sini nggak ada TPS. Kalau mau ke TPS resmi, jauh sekali. Daripada sampahnya nimbun di rumah dan bau, ya terpaksa buang di sini, Mas. Pemerintah cuma bisa himbau, tapi nggak nyediain tempatnya. Terus kami harus bagaimana?” Tegas Ibu Enur

“Pak Pandi, sebagai pengendara, bagaimana pendapat Bapak mengenai kondisi tumpukan sampah di pinggir jalan ini?”

“Jelas mengganggu, Mas. Selain bau, pemandangannya juga kotor. Kita yang lewat jadi nggak nyaman. Tapi kalau saya mikir lagi, orang-orang ini juga nggak mungkin buang di sini kalau ada pilihan yang lebih baik.

Harusnya pemerintah, selain buat himbauan, juga kasih solusi nyata, kayak bangun TPS di setiap kelurahan atau sediain bak sampah.

Menyoroti detail tumpukan sampah, termasuk label atau jenis sampah tertentu. Permasalahan sampah di Area Desa Sindangraja ini menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, perilaku membuang sampah sembarangan tentu tidak dibenarkan.

Namun di sisi lain, pemerintah setempat juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan infrastruktur dasar, termasuk sistem pengelolaan sampah yang baik dan mudah diakses oleh warganya. Himbauan tanpa adanya fasilitas pendukung tampaknya tidak akan menjadi solusi yang efektif.


Warga berharap, pemerintah setempat segera mengambil langkah konkrit untuk menangani masalah sampah ini. Tidak hanya dengan himbauan, namun dengan menyediakan fasilitas pembuangan sampah yang memadai, sehingga warga dapat berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan tanpa harus merasa “terpaksa” melanggar aturan.

Kinerja Disdikpora Cianjur Disorot, Tokoh Masyarakat Keluhkan Sulitnya Temui Kabid SD

investigasihukumkriminal CIANJUR| Kekecewaan mendalam datang dari tokoh masyarakat terkait pelayanan publik di lingkungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur. Seorang tokoh lokal mengeluhkan sulitnya menemui Kepala Bidang Sekolah Dasar, bahkan menyindir hal tersebut lebih sulit dibandingkan menemui bupati. Berikut laporan selengkapnya.

Buruknya akses pelayanan publik kembali dikeluhkan oleh masyarakat Kabupaten Cianjur. Rasul Hamidi, salah satu tokoh masyarakat setempat, menyampaikan kritik tajam terhadap kinerja Kepala Bidang Sekolah Dasar (Kabid SD) Disdikpora Cianjur, Rifki, yang dinilai tidak profesional dalam melayani masyarakat.

Rasul Hamidi mengaku telah mendatangi kantor Disdikpora sebanyak empat kali berturut-turut, namun selalu gagal menemui sang Kabid.

  • Jumat: Pukul 10:30 WIB (sebelum ibadah salat Jumat)
  • Senin: Jam kerja operasional
  • Selasa: Jam kerja operasional
  • Rabu: Pukul 08:30 WIB pagi

Menurut keterangan staf, Kabid SD sedang tidak berada di kantor karena telah berangkat ke daerah Takokak sejak subuh. Namun, Rasul Hamidi menilai alasan tersebut tidak berdasar dan menganggap pejabat terkait justru sering berkeluyuran serta tidak standby di kantor.

Padahal, Rasul Hamidi menegaskan kedatangannya memiliki tujuan positif, yakni ingin membantu meringankan beban dan memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Cianjur. Ia mengingatkan bahwa seorang pejabat adalah abdi negara yang digaji oleh rakyat untuk melayani, bukan sebaliknya.

Kekecewaan ini berujung pada desakan tegas kepada Bupati Cianjur, Dr. M. Wahyu Ferdian. Rasul Hamidi meminta bupati untuk segera mengevaluasi total kinerja bawahannya di setiap instansi. Ia menyoroti bahwa sejak era kepemimpinan Bupati Wasidi Swastomo, Cecep Muchtar Soleh, hingga Herman Suherman, kinerja di lingkungan Disdikpora masih dinilai semrawut dan belum menunjukkan perbaikan nyata.

Masyarakat mempertanyakan bagaimana Kabupaten Cianjur bisa maju jika kinerja dinas terkait masih tidak terarah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Disdikpora maupun Kabid SD yang bersangkutan terkait keluhan ini.

Sulit Ditemui dan Jarang di Kantor, Pelayanan Disdikpora Cianjur Keluhkan Masyarakat dan Insan Pers

investigasihukumkriminal CIANJUR|Kinerja dan efektivitas pelayanan publik di kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur disoal. Pasalnya, sejumlah pejabat teras termasuk Kepala Bidang (Kabid) hingga beberapa pegawai di dinas tersebut dinilai amat sulit ditemui dan jarang berada di tempat saat jam kerja berlangsung.


Kondisi ruang kerja yang kerap kosong dan pejabat yang sulit dikonfirmasi ini memicu keluhan dari berbagai pihak, baik warga yang memerlukan pelayanan administrasi maupun awak media yang ingin melakukan klarifikasi publik.


Salah satu pejabat yang disinyalir sulit dihubungi dan jarang berada di kantor adalah Kepala Bidang terkait. Berdasarkan pantauan langsung di lokasi gedung Disdikpora Cianjur, ruang pelayanan maupun kantor pejabat yang bersangkutan kerap tampak sepi dari aktivitas konfirmasi.


Beberapa kali upaya konfirmasi formal maupun pesan singkat yang dilayangkan wartawan untuk meminta keterangan terkait program kerja serta penggunaan anggaran dinas tidak mendapatkan respons.


Kehadiran aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat publik seharusnya mengedepankan transparansi serta keterbukaan informasi. Sikap tertutup dan minimnya keberadaan pejabat di kantor ini bertolak belakang dengan jargon transparansi serta semangat “Kejujuran Menutupi Kesuksesan” dan “Hindari Praktek Korupsi” yang terpampang jelas di area gedung utama kantor tersebut.


Hingga berita ini diterbitkan, pihak Disdikpora Kabupaten Cianjur belum memberikan jawaban resmi terkait sulitnya akses komunikasi dan konfirmasi mengenai keberadaan para pejabat di lingkungan dinas tersebut. Awak media masih terus berupaya mendapatkan tanggapan resmi demi keberimbangan berita.

Rawan Kecelakaan, Warga Desak Pembuatan Speed Table di Depan Sekolah

investigasihukumkriminal CIANJUR | Kekhawatiran orang tua dan warga sekitar SDN Sindangraja 4, yang terletak di Kp. Bonghas, Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, semakin memuncak. Pasalnya, area di depan sekolah tersebut dinilai sangat rawan kecelakaan lalu lintas, mengancam keselamatan ratusan siswa setiap harinya.(14/09)

Berdasarkan pantauan di lapangan, ruas jalan di depan gerbang sekolah merupakan jalan lurus yang cukup lebar, yang sering kali memicu pengendara sepeda motor untuk memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Warga melaporkan bahwa kendaraan yang melintas, dari Kedua arah sebaliknya, kerap melaju di atas batas aman untuk area sekolah.

Kejadian kecelakaan dan nyaris tertabraknya siswa saat menyeberang jalan bukan lagi hal asing. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya marka jalan penyeberangan yang jelas dan tidak adanya rambu peringatan yang memadai.

“Kami sudah sangat resah. Setiap anak-anak pulang sekolah, hati kami was-was. Banyak motor yang lewat kencang sekali, padahal di sini banyak anak kecil yang mau menyeberang,” ujar Bu Hj Hen Hen, salah seorang warga setempat.



Sebagai solusi konkret untuk menekan laju kendaraan dan menjamin keselamatan siswa, warga dan pihak sekolah mendesak pemerintah daerah, melalui dinas terkait (Dinas Perhubungan dan Dinas PUPR Kabupaten Cianjur), untuk segera melakukan pemasangan Speed Table atau peninggian jalan di dekat area sekolah.

Usulan pemasangan Speed Table dinilai lebih efektif dibandingkan polisi tidur konvensional. Speed Table dirancang lebih lebar dan datar di bagian atasnya, sehingga mampu memaksa pengendara untuk menurunkan kecepatan secara signifikan, namun tetap nyaman saat dilalui. Speed Table ini juga ideal jika dipadukan dengan marka penyeberangan (zebra cross), sehingga menjadi satu kesatuan fasilitas penyeberangan yang aman dan menonjol.

“Kami berharap batas kecepatan di area ini bisa ditekan di bawah 40 km/jam, bahkan lebih rendah saat jam sekolah. Speed Table dengan zebra cross adalah solusi terbaik. Kami mohon segera ditindaklanjuti sebelum ada korban jiwa lagi,” tambah Bapak Arif Rahman, Pengajar sekolah SDN Sindangraja 4.


Pemasangan fasilitas keselamatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan Zona Selamat Sekolah (ZoSS) di seluruh wilayah Indonesia. Warga Kp. Bonghas sangat berharap aspirasi ini segera didengar dan direalisasikan oleh pihak berwenang demi masa depan dan keselamatan anak-anak bangsa.

Suarakan pendapat Anda di kolom komentar!

Baca berita selengkapnya:
www.investigasihukumkriminal.com | www.investigasinews.web.id
📱 Follow @InvestigasiNews di Instagram | Facebook | YouTube & X

#investigasinews #kabarinvestigasi #investigasihukumkriminal #news #breakingnews #kabarberita #beritanasional #beritaviral #inews

Ide Dapur Sekolah Berbasis Warga untuk Program MBG

Instruksi ini memicu beragam reaksi dari orang tua, terutama ibu-ibu. Ada yang berkomentar, “Bapak, biasanya anak saya nggak dimakan dan dibawa pulang buat adiknya.” Sementara yang lain menambahkan, “Bapak Ibu, anak saya sudah kenyang dan Gak Bakal Dimakan”

Sebuah gagasan yang pun muncul dari diskusi jurnalis investigasihukumkriminal.com tentang model “Dapur Sekolah Berbasis Warga” dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menarik dan sejalan dengan semangat pemberdayaan ekonomi lokal serta prinsip transparansi.

Usulan ini menekankan agar dapur didirikan di setiap sekolah, atau minimal klaster sekolah terdekat, dengan pengelolaan langsung oleh warga sekitar—khususnya ibu-ibu rumah tangga di tiap RT yang bergilir setiap minggu.

Kelebihan Model Dapur Sekolah Berbasis Warga

  • Pengawasan Transparan
    Kualitas makanan lebih terjamin karena dimasak langsung di lingkungan sekolah. Orang tua dan komite sekolah dapat memantau kebersihan, kesegaran bahan, serta proses memasak setiap hari. Risiko kontaminasi juga minim karena distribusi makanan berlangsung cepat dari dapur ke piring siswa.
  • Pemberdayaan Ekonomi Lokal
    Melibatkan ibu-ibu sekitar sekolah melalui koperasi atau kelompok kerja warga memberi dampak ekonomi langsung. Anggaran MBG benar-benar berputar di masyarakat lokal, bukan hanya terkonsentrasi pada vendor besar.
  • Menu Fleksibel Sesuai Selera Lokal
    Dapur mikro lebih mudah menyesuaikan menu dengan preferensi kuliner anak-anak di wilayah tersebut, berbeda dengan dapur sentral yang menunya seragam untuk satu kabupaten/kota.
  • Pendidikan Karakter dan Gotong Royong
    Program ini dapat menghidupkan kembali budaya gotong royong di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Tantangan yang Perlu Diantisipasi

  • Standarisasi Higienitas
    Tidak semua sekolah memiliki fasilitas dapur sesuai standar sanitasi. Pelatihan keamanan pangan wajib diberikan kepada pengelola.
  • Pertanggungjawaban Keuangan
    Dana negara memerlukan laporan administratif yang akurat. Warga perlu pendampingan agar tidak kewalahan menghadapi birokrasi.
  • Kapasitas Infrastruktur
    Banyak sekolah tidak memiliki lahan atau bangunan memadai untuk dapur umum tanpa mengganggu kegiatan belajar.

Alternatif Solusi Penengah

Sebagai jalan tengah, sejumlah pihak menyarankan Model Dapur Klaster Komunitas. Konsep ini mirip dapur umum desa atau berbasis koperasi setempat, di mana satu dapur melayani 2–3 sekolah dalam satu zona kelurahan/desa. Dengan cara ini, skala ekonomi dan efisiensi tetap terjaga, sementara keterlibatan warga lokal dan pengawasan ketat oleh orang tua tetap bisa diwujudkan. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah model dapur berbasis klaster desa lebih ideal diterapkan di wilayah kita dibandingkan dapur di setiap sekolah?

Bertahun tahun Tiang PJU Tumbang di Jembatan Cikamunding Tak Diakui Dinas dan Desa

investigasihukumkriminal, Cianjur – Selama lebih dari tiga tahun, warga di sekitar Jembatan Cikamunding, perbatasan Desa Hegarmanah dan Desa Sukasirna, Kecamatan Sukaluyu, Cianjur, terpaksa menembus kegelapan malam. Kondisi ini dipicu oleh robohnya tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) yang hingga kini tak kunjung diperbaiki. Akibatnya, akses vital antar-desa tersebut berubah menjadi jalur rawan kecelakaan dan tindak kejahatan.



Tiang PJU yang dulunya menerangi jalur Jembatan Cikamunding kini hanya menjadi besi tua yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan. Menurut penuturan warga setempat, tiang tersebut roboh akibat beban tambang spanduk yang terikat bertahun-tahun lalu. Namun sejak ambruk, tidak pernah ada tindakan perbaikan dari pihak berwenang.
Upaya konfirmasi yang dilakukan tim investigasi justru menemukan benang kusut birokrasi. Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur menyatakan bahwa tiang PJU tersebut bukan milik maupun kewenangan mereka. Penelusuran berlanjut ke pemerintah desa setempat, namun jawaban yang didapat justru mengejutkan—pihak desa mengaku tidak mengetahui keberadaan tiang PJU tersebut.

Kondisi jalur yang gelap gulita setiap malam membuat pengendara sepeda motor dan pejalan kaki terus diselimuti rasa takut. Warga menilai pemerintah seolah lepas tangan, padahal Jembatan Cikamunding merupakan urat nadi transportasi yang menghubungkan Desa Hegarmanah dan Desa Sukasirna.

Tiang PJU yang tumbang di Jembatan Cikamunding kini menjadi simbol nyata lemahnya koordinasi antarinstansi. Kini, masyarakat hanya bisa menanti kepastian: siapa yang sebenarnya bertanggung jawab, dan kapan penerangan jalan ini kembali menyala demi menjamin keselamatan warga.
Dari Cianjur, Jawa Barat, tim liputan melaporkan.

Tarif Parkir CFD Resmi Rp5.000 di Cianjur, Warganet Beri Komentar Pedas

investigasihukumkriminal, Cianjur – Media sosial kembali diramaikan oleh unggahan seorang pengguna yang memperlihatkan karcis parkir dengan nominal Rp5.000. Unggahan tersebut memicu beragam reaksi netizen, sebagian menilai tarif tersebut terlalu tinggi, sementara lainnya menganggapnya wajar sebagai bentuk penataan parkir yang lebih tertib.(12/07)

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan perparkiran di kawasan Salakopi, Cianjur, dikelola secara resmi oleh organisasi kepemudaan Karang Taruna Badak Putih Unit Kerja RW 14. Mereka aktif mengatur lahan parkir sepeda motor bagi masyarakat yang beraktivitas di area tersebut.

Dalam operasionalnya, pengelola menerapkan tarif resmi Rp5.000 per unit sepeda motor. Sebagai bukti pembayaran sah, setiap pengendara menerima karcis fisik yang mencantumkan nomor polisi kendaraan. Sistem ini sekaligus menjadi bagian dari pengamanan dan pendataan.

Selain itu, karcis juga memuat sejumlah aturan penting, di antaranya:

  • Karcis hilang wajib menunjukkan STNK sebagai bukti kepemilikan.
  • Pemilik kendaraan diimbau mengunci ganda motor untuk mencegah tindak kejahatan.
  • Pengelola parkir menegaskan segala bentuk kerusakan maupun kehilangan kendaraan bukan tanggung jawab mereka.

Langkah ini diharapkan mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekaligus menjadi wadah kegiatan produktif bagi para pemuda RW 14 Salakopi.

Namun, di jagat maya muncul komentar pedas dari sejumlah netizen. Salah satunya menulis dalam bahasa Sunda: “Ges mh gede mayar parkirna, katambah mun ka lengitan te daek tanggung jawab, ripuhh” yang berarti keluhan atas tarif yang dianggap mahal dan aturan yang dinilai memberatkan.

Komentar lain menyoroti aturan karcis dengan nada kritis: “Wah, luar biasa ya sistemnya. Karcis hilang harus nunjukin STNK karena dianggap bukti kepemilikan. Tapi giliran motornya hilang, malah lepas tangan karena katanya ‘di luar tanggung jawab pengelola’. Jadi ini karcis gunanya buat bayar parkir atau buat biaya ‘asuransi’ yang nggak menjamin apa-apa nih?”

Fenomena ini memperlihatkan dinamika antara kebutuhan penataan parkir yang tertib dengan persepsi masyarakat terhadap biaya jasa yang dikenakan.(*)

Sertifikat Agunan Tertahan, Nasabah BRI Keluhkan Denda

investigasihukumkriminal, Cianjur – Seorang nasabah Bank BRI atas nama Ibu Een, istri dari Bapak Amad yang beralamat di Kampung Pasir Terong RT 01 RW 08 Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, mengeluhkan sulitnya mendapatkan kembali sertifikat tanah yang dijadikan agunan pinjaman.

Pinjaman yang diajukan atas nama Bapak Amad sebesar Rp20 juta dengan tenor 24 bulan, semula memiliki kewajiban cicilan Rp900 ribu per bulan. Namun, karena kesulitan ekonomi, pada cicilan ke-7 pihak bank memberikan keringanan dengan menurunkan cicilan menjadi Rp700 ribu per bulan, tetapi diperpanjang menjadi 35 bulan.

Menurut pengakuan Ibu Een, pinjaman tersebut kini sudah lunas. Namun saat ia mempertanyakan sertifikat tanah, pihak bank menyebutkan adanya denda sebesar Rp5 juta yang harus dibayarkan terlebih dahulu. Kondisi ini semakin memberatkan karena ekonomi keluarga sedang terhimpit, ditambah suaminya tengah sakit stroke.

Setelah menyampaikan keluhan, pihak BRI memberikan keringanan dengan syarat pembayaran setengah dari jumlah denda, yakni Rp2,5 juta, agar sertifikat tanah bisa dikembalikan.

Saat tim investigasi mendatangi Kantor Cabang BRI Cianjur Unit Ciranjang Baru untuk meminta klarifikasi, petugas tidak berada di tempat dan hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak bank.

Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dan perlindungan hak nasabah dalam layanan perbankan, terutama ketika menyangkut agunan berupa aset berharga seperti sertifikat tanah.