Satresnarkoba Polres Priok, Tangkap Bandar Pil Leksotan di Jakarta Utara

investigasihukumkriminal, JAKARTA – Seorang bandar pil leksotan berhasil diringkus Satuan Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Priok, di sebuah kios di Jalan Mangga Dua Raya, RT 11/05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Tersangka diketahui berinisial IM (24). Di kios miliknya, polisi mendapatkan ratusan pil terlarang sebanyak 483 butir dari berbagai jenis obat-obatan. Guna proses lebih lanjut, tersangka dibawa ke Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok.

“Disita barang bukti berupa Tramadol 310 butir, Camlet 11 butir, Merlo pam 7 butir, Mersu alprozolam 8 butir, Trihexyp 3 butir, Rk 9 butir, Merci 0.5 ada 12 Butir, dan Exsimer 123 butir,” ujar Kasat Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Priok, AKP Trendy Habibi Ariyanto, S.TrK., S.I.K., M.H., saat dikonfirmasi, Senin, 26 Januari 2026.

Pengungkapan kasus ini, kata AKP Habibi, berawal saat Unit 2 menerima informasi dari masyarakat tentang adanya tindak pidana peredaran gelap jenis obat – obatan terlarang yang berada di Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Selanjutnya anggota opsnal melakukan penyelidikan di tempat tersebut, kemudian berhasil melakukan penangkapan terhadap 1 orang inisial IM yang diduga sebagai penjualnya.

“Setelah dilakukan penggeledahan ditemukan 1 unit handphone dan berbagai obat obatan terlarang,” katanya.

Saat ini, polisi masih melakukan penelusuran terkait pemasok utama sejumlah obat terlarang tersebut.

“Terkait asal sumber barang masih kita dalami dan masih dalam proses pengembangan serta penyelidikan oleh Unit Opsnal Satresnarkoba,” katanya.

Bupati Bogor Pastikan Isu Korban Massal di Tambang Pongkor Tidak Benar 

investigasihukumkriminal Bogor, Jawa Barat – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, meluruskan kabar yang beredar di media sosial terkait adanya ratusan korban akibat munculnya asap di area tambang emas PT Aneka Tambang (Antam) Pongkor, Kabupaten Bogor. Informasi tersebut ditegaskan tidak benar dan hanya kesalahpahaman.

Rudy menjelaskan bahwa angka “700” yang disebut dalam video bukanlah jumlah korban, melainkan penanda lokasi tambang pada level 700. Kesalahan interpretasi ini kemudian menyebar luas dan menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

“Kami tegaskan, tidak ada korban sebanyak 700 orang. Angka 700 merujuk pada level tambang, bukan jumlah korban. Informasi yang beredar adalah hoaks,” ujar Rudy Susmanto.

Lebih lanjut, Rudy menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama aparat keamanan dan manajemen Antam segera meninjau lokasi untuk memastikan kebenaran informasi. Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan tidak ada korban dalam jumlah besar sebagaimana disebutkan dalam kabar yang beredar.

“Kami datang langsung ke Kecamatan Nanggung, menggelar rapat bersama pimpinan Antam, Kapolres dan Dandim untuk mendapatkan informasi yang valid dan sebenar-benarnya. Informasi soal ratusan korban itu tidak benar,” ujar Rudy, Rabu (14/1/2026).

Pemerintah Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Rudy juga menekankan pentingnya mengacu pada sumber resmi agar tidak menimbulkan keresahan.

Klarifikasi Polda Jabar: Tidak Ada Polisi Masuk Kampus UNISBA Saat Kericuhan

Bandung, (02/09/25) investigasihukumkriminal – Kepolisian Daerah Jawa Barat memberikan klarifikasi tegas terkait tuduhan yang menyebutkan adanya aksi sweeping oleh aparat kepolisian di dalam kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) saat kericuhan terjadi beberapa waktu lalu.

Kapolda Jabar, Irjen Pol. Rudi Setiawan, menepis kabar tersebut dan menyatakan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai fakta. “Tidak ada polisi yang masuk ke dalam kampus, tidak ada sweeping. Yang berada di pintu gerbang adalah kelompok massa, bukan mahasiswa UNISBA,” tegasnya dalam konferensi pers di Bandung.

Fakta di Lapangan

  • Polisi hanya melintas di jalan umum dan tidak memasuki area kampus.
  • Rekaman video menunjukkan salah satu direktur kepolisian mengingatkan anggotanya agar tidak masuk ke lingkungan kampus.
  • Polda Jabar telah berkomunikasi dengan pimpinan UNISBA, yang justru meminta bantuan pengamanan.

Menurut Rudi, kericuhan bukan sepenuhnya melibatkan mahasiswa UNISBA. “Kampus justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mempersenjatai diri dan menyerang petugas,” ujarnya.

Kapolda menegaskan bahwa penyisiran dilakukan oleh keamanan internal UNISBA, bukan oleh polisi. “Mereka tidak ingin nama baik kampus tercemar, sehingga internal melakukan pengusiran terhadap kelompok pengacau tersebut,” jelasnya.

Dalam patroli yang dilakukan pada pukul 00.30 WIB, polisi mengamankan 16 orang. Dari jumlah tersebut, 10 telah teridentifikasi:

  • Terdiri dari mahasiswa, satpam, wiraswasta, dan pengangguran.
  • Beberapa terlibat kasus narkoba dan membawa senjata berbahaya.

Kasus Menonjol

  • MN (23), mahasiswa semester 5, membawa ganja dan positif narkoba.
  • MF (23), terlibat percakapan transaksi narkoba dan ajakan membuat kericuhan.
  • GOP, pengangguran tamatan SMA, membawa ganja.
  • AA (25), asal Bandung, membawa senjata soft gun berpeluru gotri.

“Senjata gotri ini berbahaya, pada jarak dekat bisa mematikan. Dua tersangka sudah kami proses sesuai hukum, sementara lainnya masih dalam pemeriksaan,” ujar Rudi.

Kapolda menegaskan bahwa kericuhan bukanlah aksi unjuk rasa mahasiswa, melainkan tindakan kelompok tertentu yang telah merencanakan kekacauan. Ia mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama menjaga kondusifitas Jawa Barat.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Gubernur, Kajati, Pangdam, dan Ketua Pengadilan agar Jawa Barat tetap aman,” tutupnya.