1
1
Cianjur, investigasihukumkriminal – Ajang Talenta Siswa (ATS) 2026 resmi dibuka oleh Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, dengan prosesi penancapan gunungan wayang sebagai simbol dimulainya kegiatan tahunan tersebut. Acara berlangsung meriah, dihadiri jajaran pemerintah daerah, Disdikpora, guru pembimbing, peserta didik, serta tamu undangan dari berbagai sekolah.
Namun, di balik kemeriahan itu, muncul sejumlah sorotan dari kalangan peserta dan guru. Salah satunya adalah pemilihan lokasi acara yang digelar di gedung salah satu kementerian kesehatan, bukan di gedung pendidikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi tempat dengan tema besar ATS yang berfokus pada pengembangan potensi dan karakter siswa.

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa ATS bukan sekadar perlombaan mencari juara, melainkan wadah pembentukan karakter generasi muda. “Ajang Talenta Siswa ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak kita belajar menghargai proses, membangun karakter, dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah guru pembimbing menyampaikan kekecewaan atas penilaian juri yang dinilai tidak transparan. Kriteria kemenangan tidak dijelaskan secara terbuka, sehingga menimbulkan kebingungan dan rasa tidak puas di kalangan pendidik.

Selain itu, muncul pula anggapan kritis terkait anggaran yang digelontorkan untuk ATS 2026. Beberapa pihak mempertanyakan transparansi penggunaan dana, terutama karena adanya ketidaksesuaian antara tujuan pendidikan dengan pelaksanaan teknis acara.
Dengan segala dinamika yang terjadi, ATS 2026 tetap menjadi momentum penting bagi Kabupaten Cianjur. Namun, sorotan mengenai lokasi, transparansi penilaian, dan penggunaan anggaran menjadi catatan yang tidak bisa diabaikan jika ingin menjadikan ATS sebagai ajang pembentukan karakter yang benar-benar bermakna bagi generasi muda.