Peusijuk Kepulangan Umrah: Merawat Identitas Aceh di Perantauan
1 min read

Peusijuk Kepulangan Umrah: Merawat Identitas Aceh di Perantauan

investigasihukumkriminal, Jakarta | 6 Februari 2026 – Tradisi adat dan nilai religius kembali berpadu dalam sebuah acara Peusijuk yang digelar di kediaman Heri Syahputra bersama istrinya, Desi, usai kepulangan mereka dari ibadah umrah. Acara yang berlangsung pada Jumat sore itu dihadiri oleh keluarga besar Ikatan Keluarga Nagan Raya (IKNR), mencerminkan solidaritas dan silaturahmi masyarakat Aceh di perantauan.

Peusijuk, sebagai tradisi khas Aceh, menjadi simbol rasa syukur sekaligus pengikat kebersamaan. Dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan, doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan, keberkahan, serta keteguhan iman. Lebih dari sekadar ritual, Peusijuk menghadirkan ruang pertemuan antara nilai agama dan adat, memperkuat ikatan sosial antarwarga Aceh yang jauh dari kampung halaman.

Pelaksanaan Peusijuk di tengah hiruk pikuk kehidupan kota menegaskan bahwa identitas budaya Aceh tetap hidup dan relevan. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan, penghormatan terhadap adat, serta nilai gotong royong yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Dalam refleksi budaya tersebut, hadir pula Bendahara Umum IKNR Jakarta, Bapak Zaenuddin Musih (Zay), yang menekankan pentingnya merawat jati diri melalui tradisi lintas generasi. “Peusijuk bukan hanya warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus dimaknai ulang. Melalui tradisi ini, kita memperkuat silaturahmi dan menanamkan nilai kebajikan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Acara Peusijuk kepulangan umrah ini menjadi bukti nyata bahwa budaya adalah denyut kehidupan yang terus berlanjut. Di perantauan, masyarakat Aceh tetap menjaga akar tradisi, menjadikannya sebagai perekat komunitas sekaligus sumber inspirasi dalam merawat kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *